Ditulis oleh Rita Pamilia | 16 April 2012 13:49 WIB
Seiring bertambahnya usia, keinginan seseorang untuk
berkompetisi semakin menurun. Demikian tampaknya kenyataan yang ada di
masyarakat. Namun tahukan Anda, kondisinya tak selalu demikian lho.
Studi
yang dilakukan Ulrich Mayr, seorang profesor psikologi dari University
of Oregon (UO) Amerika Serikat, menemukan bahwa usia 50 merupakan fase
paling kompetitif dari kehidupan seseorang. Hal ini tentu berkebalikan
dengan pandangan umum selama ini. Di dunia kerja sendiri, seperti
dilansir melalui mediaindonesia.com, kinerja karyawan muda lebih
diperhatikan daripada rekannya yang lebih tua.
Mayr dibantu William Harbaugh, profesor ekonomi dari UO, memulai
penelitian pada musim panas 2010 silam. Mereka melakukan penelitian
bersama sejumlah siswa SMA yang tengah belajar bersama UO dalam program
musim panas.
Para siswa lantas mendirikan kios di sebuah pusat perbelanjaan. Di
kios tersebut, ratusan relawan berusia 25-75 tahun diberikan tantangan
permainan matematika sederhana. Jika mampu menjawab soal tersebut,
mereka bisa mendapatkan uang tunai dalam jumlah kecil. Namun jika mereka
bisa mengalahkan salah seorang lawan dalam menjawab soal, mereka bisa
mendapatkan hadiah lebih besar. Artinya, mereka sebenarnya diberi
pilihan untuk bermain sendiri atau bersama saingan.
Dan hasilnya, hampir 70 persen laki-laki berusia 45-54 tahun
memilih untuk bertanding satu lawan satu. Di sisi lain, hanya terdapat
54 persen saja dari mereka yang berusia 25-34 tahun memilih bertanding
satu lawan satu. Untuk usia 35-44 tahun hanya terdapat 50 persennya
saja.
Hasil ini menunjukkan bahwa rentang usia 45-54 tahun merupakan fase
paling kompetitif dalam kehidupan seseorang. Jiwa kompetisi ini
kemudian menurun setelah rentang usia tersebut. Hasil ini juga berlaku
pada perempuan. Meski ditemukan fakta pula bahwa jiwa bersaing perempuan
lebih rendah dibanding laki-laki. [CN]
sumber: http://ecc.ft.ugm.ac.id/index.php?r=berita/detil&id=1268







Tidak ada komentar:
Poskan Komentar